Prestasi Tak Pernah Sepi, Paula Moonik Buktikan SMPN 2 Amurang Cetak Siswa Berbakat dan Berbudaya
Prestasi Tak Pernah Sepi, Paula Moonik Buktikan SMPN 2 Amurang Cetak Siswa Berbakat dan Berbudaya MINAHASA SELATAN, Amurangpost.my.id — Prestasi seolah tak sepi pernah dari SMPN 2 Amurang. Di bawah kepemimpinan Kepala Sekolah Paula Moonik, S.Pd, potensi siswa terus digali, dibina dan diarahkan menjadi prestasi, kreativitas serta karya yang mengharumkan nama sekolah.
Bukan hanya sekedar mengejar prestasi akademik, Paula Moonik mendorong SMPN 2 Amurang menjadi ruang tumbuh bagi siswa yang memiliki bakat di berbagai bidang, termasuk seni dan budaya.
Hal ini ditunjukan dengan PRESTASI mereka dalam mengikuti FLS3N (Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional) dengan meraih juara satu tingkat Propinsi dan saat ini sedang melangkah ketingkat Nasional mewakili Propinsi Sulawesi Utara.
Hasilnya terlihat dari kreativitas siswa dalam menggarap Musik Tradisional bertema Pelestarian Alam dengan judul “Tana' si napa'aleen Opo Empung”, yang berarti alam yang dijadikan Tuhan.
Karya tersebut diciptakan guru Seni Budaya
Safira A. Liow, S.Pd,
dengan melibatkan siswa
Jesika Mangode,
Imanuel Manuel,
Bagus Alfarizi,
Nadya Melody Rantung
Gloria Pongantung.
Karya ini tidak sekadar menyuguhkan permainan musik tradisional. Di dalamnya terdapat pesan kuat tentang kecintaan terhadap alam sekaligus upaya memperkenalkan kembali kekayaan budaya Minahasa kepada generasi muda.
Bahasa Tontemboan menjadi salah satu unsur utama dalam karya tersebut. Cerita yang diangkat berkaitan dengan alam, hutan, udara, langit dan kehidupan masyarakat Minahasa.
Komposisinya juga dibangun dengan nuansa ritual adat Minahasa, membawa pesan untuk menjaga mata air, sungai, hutan dan kekayaan alam sebagai bagian dari warisan yang harus dilestarikan.
Kolintang, Tetengkoren dan Suling Bambu
Kreativitas siswa semakin terlihat melalui penggunaan alat musik tradisional seperti kolintang, tetengkoren dan suling bambu.
Kolintang menjadi bagian utama dalam ansambel, tetengkoren memberikan warna ritmis khas Minahasa, sementara suling bambu memperkuat elemen melodi dan harmonis.
Perpaduan musik tersebut menampilkan bahwa budaya tradisional dapat dikemas secara kreatif tanpa kehilangan identitasnya.
Tidak hanya musik, penampilan juga diperkuat dengan simbol-simbol budaya Minahasa seperti daun tawaang, tombak wengkow/weko dan hiasan kepala kabasaran.
Busana merah-hitam dengan unsur motif batik Sulawesi Utara turut memperkuat karakter pertunjukan, dengan representasi flora dan fauna khas daerah.
Prestasi Dibangun dari Pembinaan
Bagi SMPN 2 Amurang, lahirnya karya tersebut merupakan bagian dari proses pelatihan siswa.
Di bawah kepemimpinan Paula Moonik, S.Pd, r uang bagi siswa untuk mengembangkan bakat dan kreativitas terus dibuka. Guru tidak hanya berperan dalam proses pembelajaran, tetapi juga menjadi pembimbing yang membantu siswa mengembangkan potensi mereka.
Sebab, prestasi tidak lahir begitu saja. Prestasi memerlukan pelatihan, kesempatan, keberanian dan lingkungan sekolah yang memberikan ruang kepada siswa untuk berkembang.
Itulah yang terus dibangun di SMPN 2 Amurang.
Siswa tidak hanya didorong untuk berprestasi secara akademis, tetapi juga diarahkan agar mampu berkarya, tampil percaya diri dan mengenal akar budaya daerahnya.
Karya “Tana' si napa'aleen Opo Empung” pun menjadi salah satu bukti bahwa pendidikan dapat berjalan beriringan dengan pelestarian budaya.
Dari ruang kelas menuju panggung kreativitas, dari pembelajaran menuju prestasi. SMPN 2 Amurang terus menunjukkan bahwa siswa berbakat tidak cukup hanya ditemukan—mereka harus dibina, diberi ruang dan didorong untuk berprestasi.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Related Articles